Menu
Membangun Dengan Nurani

Bupati Lembata : Generasi Muda Lembata Harus Dibentuk Karakternya Melalui Pendekatan Budaya

  • Bagikan

INFOKINI.NET, LEMBATA – Bupati Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Thomas Ola mengatakan, generasi muda Lembata harus dibentuk karakternya secara terus menerus melalui pendekatan budaya.

“Agar mereka berkarater dan berbudaya,” kata bupati Thomas saat menerima seluruh komunitas carnaval di Pantai Harnus Lewoleba, Kamis (3/03/2022) siang.

Saat tiba di depan pintu masuk pantai Wulen Luo Harnus, Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday menyambut seluruh komunitas adat di depan pintu.

“Saya menerima kedatangan seluruh komunitas untuk taan mura rame Lewotana. Pana Pai gawe gere,” ucap Bupati Thomas Ola.

Bupati Thomas Ola mengatakan, Eksplorasi Budaya Lembata Sare Dame bisa terlaksana karena adanya keyakinan yang kuat dari para pelaksana dan restu leluhur.

“Juga keyakinan akan persekutuan leluhur lewotanah Lembata. Selain itu, ada kepercayaan akan pengampunan dosa,” tegasnya.

Bupati Thomas mengajak untuk tetap bersama-sama dalam suasana budaya yang satu menuju puncak pada 7 Maret 2022 yang akan datang.

“Dengan Sare Dame, peran suku dihidupkan kembali,” tandasnya.

Orang nomor satu di Lembata ini menegaskan, mulai hari ini masyarakat akan melaksanakan Ekplorasi Budaya Lembata.

“Tujuan mulia pembentukan karakter generasi muda Lembata. Hanya ada satu jalan membentuk karakter yakni melalui budaya. Karakter itu terbentuk kalau dilakukan secara terus-menerus maka kita sebut anak-anak berbudaya,” terang Bupati Thomas Ola

Sementara, ketua DPRD Lembata, Petrus Gero, menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Lembata karena bersama-sama mengangkat nilai-nilai luhur yang selama ini kurang menjadi perhatian.

“DPRD Kabupaten Lembata mendukung nilai-nilai budaya yang diangkat agar dipertahankan untuk mendukung kekayaan Lembata,” ucap Petrus Gero.

Ferdinandus Bera Udak, tokoh adat Desa Udak mengatakan bahwa pakaian adat yang mereka tampilkan seperti topi merupakan lambang kekuatan orang muda dari zaman dulu yang dirajut dari enau.

“Dulu saat berperang, itu merupakan lambang kekuatan untuk ikat kepala, memperbanyak pasukan. Ada juga dedek, semacam pakaian yang dibuat dari pohon waru. Hal itu menandakan suatu ikatan persatuan,” pintanya.

Untuk diketahui, dalam sesi mengisi acara, masyarakat adat Desa Udak mempertontonkan Tarian Namang. Tarian Namang adalah sebuah tarian seremonial nenek moyang kampung Udak untuk menjemput kedatangan para hulubalang, Total-Surit, Kuat Knek yang menang dalam medan perang.

Warga yang diutus dari tiap kecamatan datang mengenakan pakaian adat daerah mereka masing-masing. Ada banyak keunikan yang ditampilkan oleh peserta karnaval. Salah satunya datang dari Desa Udak, Kecamatan Nubatukan.

Mereka mengenakan pakaian lengkap balutan khas daerah dengan topi yang dirajut dari enau. (*/WK)

 

  • Bagikan