FSBT Adakan Evaluasi Kerja Komisi dan Bidang Dalam Menghadapi Era Global

INFOKINI.NET, KEFAMENANU – Pertemuan rutin Forum Sejarah dan Budaya Timor(FSBT)  ke 10 yang berlangsung di SMK Clerent Kefamenanu Minggu (26/01/2020)

Pertemuan dihadiri pecinta budaya timor seperti raja/bangsawan, turunan raja/bangsawan, turunan meo/amaf, tanah Timor ataupun utusannya kelihatan semakin terkesan sakral  dengan busana khas daerah Timor.

Dalam agenda pertemuan rutin ini membahas tentang laporan kinerja komisi dan persiapan pengukuhan wilayah kota Kupang dan Kabupaten.

Masing – masing komisi memaparkan kinerja selama sebulan terakhir untuk mengevaluasi dan meningkatkan unsur -unsur kerukunan membangun visi misi sesuai dengan bidang masing- masing.

Komisi 3 di bidang budaya yang dipresentasikan oleh Bapak Michel Bani,S.sit dengan gamblang dan antusias memaparkan budaya Timor untuk masa kini dan kedepan menghadapi era globalisasi semakin menambah semangat anggota yang hadir untuk tetap memupuk budaya.

Komisi 4 yang dipaparkan oleh Bapak Ovhy Benu tentang Ulayat alam dan lingkungan kurang begitu menarik sebab bicara ulayat dan alam haruslah berinteraksi langsung dengan kehidupan lingkungan.

Komisi 5 dibawakan oleh Ibu Emerinsiana Lake,S.pd mengulas tentang pemberdayaan masyarakat Timor untuk kedepan yang lebih maju.

Komisi 6 dibawakan Bapak Agustinus Talan S.Th.P.A.K yang membidangi sosial kemasyarakat,membuat semua peserta yang mengantuk menjadi terang kembali mendengarkan semangat dari paparan hubungan masyarakat.

Begitu pentingnya hubungan masyarakat sekitar sehingga banyak hal yang tidak bisa diabaikan tentang leluhur orang Timor.

Komisi 8 dipaparkan oleh Bapak  Yakop Tusala,yang membidangi hubungan masyarakat dan luar negeri ini bener-benar membuat cerah dan semakin berapi api dalam pengembangan FSBT ke depan.

Tanah Timor adalah tanah leluhur yang menyimpan sejarah dan budaya yang sudah dikenal sejak jaman nenek moyang kita baik di Indonesia maupun luar negeri, jadi jangan pernah kita lupakan sejarah tanah Timor ini dengan budaya global yang kebarat baratan.

“Kita orang timor punya budaya khas yang tak dimiliki oleh daerah lain,kita tidak boleh malu memakai sarung dan pilu (ikat kepala).” tegas Yakop.

Sarung timor yang warna warni menunjukkan betapa besar budaya dan kreasi nenek moyang kita dalam memintal merenda dan menenun benang untuk menjadi kain adalah suatu krearifitas membutuhkan kesabaran tinggi,lanjut Yakop.

Pertemuan yang dipimpin oleh ketua umum FSBT Alfred Baun, SH menerima dan  mengapresiasi kinerja komisi 3,5 dan 8.

“Saya berharap dari 8 komisi yang ada ini, lebih giat dalam pendalaman komisinya masing masing dan bisa membawa, memaparkan kinerjanya dipertemuan berikutnya,”ujar Alfred.

Saya sangat apresiasi dan acung jempol untuk komisi 3,5 dan 8.Tingkatkan dan lebih menonjolkan prestasi selalu inovatif untuk FSBT kedepan, lanjut Alfred

Pertemuan dan diskusi ditutup dengan makan siang bersama dan akan kembali disambung 29 Februari 2020 di Atambua – Malaka.(WK/MA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *