Menu
Membangun Dengan Nurani

Peran Radiologi Untuk Deteksi Kanker Payudara

  • Bagikan

dr. Algrizly Cafido Lukas

INFOKINI.NET, KUPANG –

PENDAHULUAN

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Data GLOBOCAN, International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan pada tahun 2020 terdapat 19.292.789 kasus baru kanker dan 9.958.133 kematian akibat kanker di seluruh dunia. Penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya salah satunya disebabkan oleh kanker payudara.3

Kasus baru kanker payudara adalah yang terbesar (setelah dikontrol dengan umur), yaitu sebesar 47,8% (Grafik 1), dan juga termasuk dalam penyebab kematian (setelah dikontrol dengan umur) tertinggi akibat kanker, yaitu sebesar 18% (Grafik 1).

Data yang bersumber dari Rumah Sakit Kanker Dharmais pada tahun 2018 menunjukkan bahwa kasus kanker terbanyak adalah kanker payudara.2

FAKTOR RESIKO

Kanker payudara umumnya mengenai wanita berusia lebih dari 40 tahun, wanita berusia lebih muda juga bisa terkena, terutama yang memiliki faktor risiko genetik. Faktor risiko lainnya dapat dilihat pada tabel 1.3,4
Kanker payudara bukanlah penyakit menular. Tidak seperti beberapa kanker yang memiliki penyebab terkait infeksi, seperti infeksi human papillomavirus (HPV) dan kanker serviks, tidak ada infeksi virus atau bakteri yang diketahui terkait dengan perkembangan kanker payudara. Sekitar setengah dari kanker payudara berkembang pada wanita yang tidak memiliki faktor risiko kanker payudara yang dapat diidentifikasi selain jenis kelamin (perempuan) dan usia (di atas 40 tahun).

Faktor-faktor tertentu meningkatkan risiko kanker payudara termasuk bertambahnya usia, obesitas, penggunaan alkohol yang berbahaya, riwayat keluarga kanker payudara, riwayat paparan radiasi, riwayat reproduksi (seperti usia mulai menstruasi dan usia kehamilan pertama), penggunaan tembakau dan terapi hormon pascamenopause.2

NO FAKTOR RISIKO
1. Riwayat keluarga dengan kanker payudara, serviks,
atau prostat
2. Riwayat kanker payudara sebelumya
3. Riwayat paparan radiasi
4. Mutasi gen BRCA1 atau BRCA2
5. Penggunaan kontrasepsi oral
6. Penggunaan (>5 tahun) terapi hormon menopause
7. Tidak memiliki anak atau usia >35 tahun ketika
melahirkan anak pertama
8. Usia pertama kali haid lebih muda
9. Usia menopause lebih tua
10. Minum alkohol
11. Penggunaan Tembakau
12. Asupan lemak yang berlebihan

Sayangnya, bahkan jika semua faktor risiko yang berpotensi dimodifikasi itu dapat dikendalikan, hanya akan mengurangi risiko terkena kanker payudara paling banyak 30%. Jenis kelamin perempuan merupakan faktor risiko kanker payudara yang paling kuat. Sekitar 0,5-1% kanker payudara terjadi pada pria. Perawatan kanker payudara pada pria mengikuti prinsip-prinsip manajemen yang sama seperti pada wanita.

Riwayat kanker payudara pada keluarga dapat meningkatkan risiko kanker payudara, tetapi sebagian besar wanita yang didiagnosis dengan kanker payudara tidak memiliki riwayat penyakit keluarga. Kurangnya riwayat keluarga yang diketahui tidak berarti bahwa seorang wanita berisiko lebih rendah.2
Mutasi gen “penetrasi tinggi” tertentu yang diwariskan sangat meningkatkan risiko kanker payudara, yang paling dominan adalah mutasi pada gen BRCA1, BRCA2 dan PALB-2.

Wanita yang memiliki mutasi pada gen utama ini dapat mempertimbangkan pengurangan risiko seperti dengan melakukan operasi pengangkatan kedua payudara. Deteksi dini kanker payudara dengan pengobatan yang sesuai dapat mengurangi tingkat kematian akibat kanker payudara secara signifikan dalam jangka panjang.5

PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Berbagai modalitas pemeriksaan radiologi digunakan dalam mendeteksi kanker payudara, yang tersering adalah penggunaan sinar-X (mamografi), USG, dan MRI.6

Mammografi

Peran Radiologi Untuk Deteksi Kanker Payudar Mammografi sudah lama diterapkan sebagai standar baku pemeriksaan radiologi. Mammografi dapat digunakan untuk mendeteksi kanker payudara sebagai tes skrining pada wanita tanpa gejala atau pada wanita yang memiliki gejala. Mammografi seringkali dapat menemukan atau mendeteksi kanker payudara sejak dini, saat benjolan itu masih kecil atau bahkan sebelum benjolan itu dapat dirasakan.7
Mammografi dapat menunjukkan area abnormal di payudara namun tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah area abnormal itu adalah kanker, tetapi dapat membantu dokter untuk memutuskan apakah membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut (seperti biopsi payudara). Mammografi juga dapat mendeteksi adanya kalsifikasi, massa, asimetri atau distorsi.7

Sensitivitas skrining mammografi bergantung pada komposisi dari jaringan payudara. Mamografi bekerja lebih baik pada jaringan lemak daripada jaringan padat payudara. Sensitivitas skrining sekitar 80% pada wanita dengan jaringan payudara yang memiliki tekstur berlemak dan homogen dan sensitivitas skrining turun menjadi 67% pada wanita dengan tekstur jaringan payudara berlemak tetapi heterogen.8
Pada mammografi dilakukan menggunakan mesin yang dirancang hanya untuk melihat jaringan payudara. Mesin ini mengambil sinar-x dengan dosis yang lebih rendah daripada sinar-x yang dilakukan untuk melihat bagian lain tubuh, seperti paru-paru atau tulang. Mesin mammogram memiliki 2 pelat yang dapat mengompres atau meratakan payudara untuk menyebarkan jaringan secara terpisah (Gambar 1). Cara ini dapat memberikan kualitas gambar yang lebih baik dan lebih sedikit dalam penggunaan radiasi.7

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak menggunakan tipe mammogram yang lebih baru disebut tomosintesis payudara digital dan umumnya dikenal sebagai mamografi tiga dimensi 3D, Tomosintesis jenis ini telah banyak dipakai. Mammografi 3D membutuhkan banyak radiasi sinar-x namun dapat melihat jaringan payudara dengan lebih jelas dalam bentuk tiga dimensi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa mamografi 3D dapat menurunkan kebutuhan untuk pemeriksaan lebih lanjut7.

Ultrasonography

USG biasanya jarang digunakan sebagai skrining rutin untuk kanker payudara. Tetapi dapat berguna untuk melihat beberapa perubahan pada payudara, seperti benjolan (terutama yang dapat dirasakan tetapi tidak terlihat pada mammogram). Ultrasonografi dapat sangat membantu pada wanita dengan jaringan payudara yang padat, yang sulit untuk melihat area abnormal pada mammogram. USG juga dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik pada area yang mencurigakan pada mammogram. USG juga sangat bermanfaat untuk membedakan apakah massa padat atau kistik, yang hampir sama pada gambaran mamografi, tetapi kalsifikasi halus (mikrokalsifikasi) tidak dapat dideteksi dengan USG. USG juga dapat digunakan untuk membantu mengarahkan jarum biopsi ke dalam area payudara sehingga dapat mengambil sel payudara untuk diperiksa. Tindakan ini juga bisa dilakukan pada pembengkakan kelenjar getah bening di bawah lengan.9

Saat ini terdapat automated breast ultrasound (ABUS) yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan USG biasa karena dapat meminimalisasi ketergantungan terhadap kemampuan operator. Penggunaan automated breast ultrasound (ABUS) meningkatkan sensitivitas dalam mendeteksi kanker payudara dari 50% menjadi 81%.9

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pada wanita dengan risiko tinggi terkena kanker payudara, pemeriksaan MRI dianjurkan bersama dengan mammogram. MRI tidak direkomendasikan sebagai skrining tes satu-satunya, karena dapat melewatkan beberapa kanker yang dapat ditemukan oleh mammogram. Meskipun MRI dapat menemukan beberapa kanker yang tidak terlihat pada mammogram, MRI juga dapat menemukan hal-hal yang ternyata bukan kanker (positif palsu). Hal ini yang dapat menyebabkan beberapa wanita melakukan tes dan / atau biopsi yang tidak diperlukan. Inilah sebabnya mengapa MRI tidak direkomendasikan sebagai tes skrining pada wanita dengan risiko kanker payudara. 10
Pemeriksaan MRI dengan kontras menunjukkan sensitivitas tinggi (sebesar 90%) dalam mendeteksi kanker payudara, dengan spesifisitas 72%. Studi juga telah menunjukkan bahwa pada wanita 44,7% kanker tidak terdeteksi dengan mamografi dan terdeteksi dengan MRI, sedangkan 2,1% kanker terdeteksi oleh mammogram dan tidak diidentifikasi dengan MRI.11

Pemeriksaan radiologi pada wanita dengan resiko rata-rata
Pemeriksaan Radiologi Rating Keterangan LRR
Skrining mamografi 9
MRI Payudara tanpa dan dengan Kontras 3 O
USG Payudara 2 O
MRI Payudara tanpa kontras 1 O
FDG-PEM 1
99MTc- sestamibi BSGI 1
Skala rating:1,2,3 biasanya tidak tepat; 4,5,6 bisa tepat; 7,8,9 biasanya tepat
BSGI = Breast Specific Gamma Imaging with Tc-99m sestamibi
FDG = 2 [18F] fluoro-2-deoxyglucose
PEM = positron emission mammography
LRR = Level Radiasi Relatif

Pemeriksaan radiologi pada wanita dengan resiko sedang
Pemeriksaan Radiologi Rating Keterangan LRR
Skrining mamografi 9 Mamografi dan MRI adalah pemeriksaan yang saling
menunjang. MRI sebaiknya tidak menggantikan mamografi.
MRI Payudara tanpa dan dengan Kontras 7 Mamografi dan MRI adalah pemeriksaan yang saling
menunjang. MRI sebaiknya tidak menggantikan mamografi. O
USG Payudara 5 O
FDG-PEM 2
99MTc- sestamibi BSGI 2
MRI Payudara tanpa kontras 1 O
Skala rating:1,2,3 biasanya tidak tepat; 4,5,6 bisa tepat; 7,8,9 biasanya tepat
BSGI = Breast Specific Gamma Imaging with Tc-99m sestamibi
FDG = 2 [18F] fluoro-2-deoxyglucose
PEM = positron emission mammography
LRR = Level Radiasi Relatif

Pemeriksaan radiologi pada wanita dengan resiko tinggi
Pemeriksaan Radiologi Rating Keterangan LRR
Skrining mamografi 9 Dimulai pada usia 25-30 atau apabila orang tua pernah
terkena kanker payudara, skrining sebaiknya dimulai pada usia
10 tahun sebelum usia orang tua didiagnosis kanker pertama
kali atau 8 tahun setelah terapi radiasi namun tidak di bawah
usia 25 tahun. Sebaiknya mamografi dan MRI dilakukan
bersamaan karena saling menunjang.
MRI Payudara tanpa dan dengan Kontras 9 Sebaiknya mamografi dan MRI dilakukan bersamaan karena
keduanya saling menunjang.. O
USG Payudara 6 Bila pasien memiliki kontraindikasi dilakukan MRI. O
FDG-PEM 2
99MTc- sestamibi BSGI 2
MRI Payudara tanpa kontras 1 O
Skala rating:1,2,3 biasanya tidak tepat; 4,5,6 bisa tepat; 7,8,9 biasanya tepat
BSGI = Breast Specific Gamma Imaging with Tc-99m sestamibi
FDG = 2 [18F] fluoro-2-deoxyglucose
PEM = positron emission mammography
LRR = Level Radiasi Relatif

American College of Radiology telah mengembangkan kriteria untuk menentukan pemeriksaan pencitraan yang sesuai dalam diagnosis dan pengobatan pada kanker payudara sebagai berikut :

1. Wanita dengan risiko terkena kanker payudara < 15% selama hidupnya, payudara tidak padat (Tabel 2). 2. Wanita dengan riwayat terkena kanker payudara, neoplasia lobuler, hyperplasia duktal atipikal, atau risiko terkena kanker payudara sebesar 15-20% selama hidupnya (Tabel 3). 3. Wanita dengan risiko tinggi (Tabel 4): • Wanita dengan mutasi gen BRCA dan yang memiliki riwayat keturunan mutasi gen BRCA. • Wanita dengan riwayat terkena radiasi di bagian dada pada usia 10-30 tahun. • Wanita dengan risiko terkena kanker payudara sebesar ≥ 20% selama hidupnya. Risiko ini dapat diukur dengan risk assessment tools (misalnya model Gail, model Claus, atau model Tyrer-Cuzick). Rekomendasi: • Untuk wanita dengan risiko tinggi, dilakukan pemeriksaan skrining mamografi dan MRI dengan kontras setiap tahun. USG dapat digunakan untuk pasien dengan kontraindikasi prosedur MRI. • Untuk wanita dengan risiko sedang, diindikasikan pemeriksaan skrining mamografi setiap tahun. Penggunaan MRI dengan kontras dapat dilakukan pada pasien tertentu dengan riwayat menderita kanker payudara atau menderita neoplasia lobuler. • Untuk wanita dengan risiko ratarata, diindikasikan untuk dilakukan pemeriksaan skrining mamografi setiap tahun. DAFTAR PUSTAKA 1. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Beban Kanker Di Indonesia. Kementrian Kesehatan: Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan; 2019 .p. 8-9. 2. Who.”Cancer Today” Global Cancer Observatory. https://gco.iarc.fr/today/online-analysis-multi. 2020 December. Web. [Cited 2022 October 10]. 3. Who. ”Breast Cancer”.https://www.who.int/news.room/fact-sheets/detail/breast-cancer. 2021 March 26. Web. [Cited 2022 October 10]. 4. Sun, S.Y, Zhao.Z, Yang. N. Z, Xu. F, Lu. J. H, Zhu. Z. Y, Shi.W, Jiang. J, Yao. P. P, Zhu. P. H. 2017. Risk Factors and Preventions of Breast Cancer. International Journal Of Biological Sciences. 13(11): 1387–1397. doi:10.7150/ijbs.21635. 5. Wang. L. 2017. Early Diagnosis Of Breast Cancer. Sensors. 17 : 1572. doi:10.3390/s17071572. 6. Zeinab. S. L, Ebadi M. R, Amjad. G, Younesi. L, Application of Imaging Technologies in Breast Cancer Detection : A Review Article [Internet]. 2019. Available From:https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6447343/ 7. American Cancer Society. Mammogram Basic [Internet]. 2022 Januari [cited 2022 July 11]. Available From : https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/screening-tests-and-early-detection/mammograms/mammogram-basics.html 8. Chelpin. E. V. M, Lillholm. M, Vejborg. I ,Nielsen M, Lynge. E, Sensitivity of screening mammography by density and texture: a cohort study from a population-based screening program in Denmark: A Research Article [Internet]. 2019. Available From : https://breast-cancer research.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13058-019-1203-3 9. Brem R.F, Lenihan M.J, Lieberman .J, Torrente. J. Screening breast ultrasound: Past, present, and future. AJR Am J Roentgenol. 2015;204(2):234–40. 10. American Cancer Society. Mammogram and the other breast imaging tests [Internet]. 2016 April 25 [cited 2022 October 10]. Available from:http://www.cancer.org/mammograms-and-other-breast-imaging-procedures-pdf. 11. Houser. M, Barreto. D, Mehta. A, Brem. F. R, Current and Future Directions of Breast MRI. J.Clinical Medicine. 2021, 10, 5668.

 

  • Bagikan