Menu
Membangun Dengan Nurani

Perdagangan Orang di NTT Masih Tinggi, Yayasan Vivat Indonesia Gelar Seminar di Lembata Libatkan Pelajar dan Guru

  • Bagikan

INFOKINI.NET, LEMBATA – Yayasan Vivat Indonesia menggelar seminar dan pelatihan jurnalistik bagi para pengelola media SMA-SMK di kota Lewoleba-Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan seminar tersebut berlangsung di aula Don Bosko, Jumat (4/11/2022) dengan mengusung tema “Membangun Kepedulian Siswa-Siswi Tentang Kasus Perdagangan Orang di NTT dan Media yang Berpihak pada Korban”.

Pantauan media ini, hadir pada kegiatan seminar tersebut, ketua DPRD Lembata, Petrus Gero, S.Sos, ketua Yayasan Vivat Indonesia, Suster Genobeba Amaral, SSpS, para guru dan siswa/siswi SMA dan SMK di kota Lewoleba beserta undangan lain.

Seminar menghadirkan pemateri yakni Pendeta Ina Bara Pa selaku ketua Unit Bencana Alam dan Kemanusiaan Sinode GMIT dan Benedicta Noben Da Silva selaku pendiri Yayasan Bunda Berbelas Kasih. Kegiatan seminar berjalan hidup diselingi drama tanya jawab yang dipandu oleh moderator suster Margaretha Ada, selaku kepala BLK Karitas Peduli desa Pada.

Usai seminar, kepada media ini, ketua Yayasan Vivat Indonesia, Suster Genobeba Amaral, SSpS berharap dengan mengadakan kegiatan di Lembata khusus seminar dan pelatihan jurnalistik bagi para pengelola media di sekolah-sekolah, yayasan Vivat bermaksud supaya guru maupun anak sekolah bisa menggunakan media di sekolah untuk mempublikasikan isu perdagangan manusia.

“Seperti majalah dinding. Guru dan siswa bagaimana bisa mempublikasikan isu perdagangan manusia dan dapat menjelaskan kepada masyarakat tentang isu perdagangan manusia. Pertama kepada siswa-siswi, guru-guru dan dibawakan kepada orang tua dan tetangga sekitar untuk bersama-sama memberantas isu perdagangan manusia,” ungkap Suster Genobeba Amaral, SSpS.

Kehadiran Yayasan Vivat di Lembata, kata Suster Genobeba, SSpS, ini merupakan yang pertama.

“Ini merupakan yang pertama kali yayasan Vivat datang di Lembata. Tetapi untuk kabupaten di NTT seperti Maumere, Labuan Bajo dan bagian Timor sudah sering kami kunjungi,” jelasnya.

“Kami ada kelompok dampingannya, sosialisasi kegiatan, pelatihan jurnalistik. Semua kami sudah lakukan di sana. Tapi untuk Lembata ini baru pertama kali. Alasan kami ke sini, karena kami tidak mendengar informasi terkait perdagangan orang di Lembata ini. Tetapi kita mendengar banyak migrasi ke Malaysia untuk cari kerja,” sambung Suster Genobeba, SSpS.

Menurutnya, dengan pergerakan migrasi ke tempat lain, itu punya resiko terutama yang tanpa dokumen-dokumen Legal.

“Sehingga untuk mengantisipasi, kami memberikan informasi ini supaya bagi anak-anak sekolah yang saat ini berada di bangku SMA saat mereka tamat mereka sudah ada sedikit informasi sehingga tidak mudah di pengaruhi oleh janji-janji atau perekrut-perekrut yang datang pada mereka,” tegas suster Genobeba, SSpS.

Sementara, Pendeta Ina Bara Pa selaku pemateri sekaligus ketua Unit Bencana Alam dan Kemanusiaan Sinode GMIT menjelaskan bahwa, seminar jurnalisme bagi sekolah-sekolah, menurutnya, itu penting sebagai media untuk isu Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) agar dikenal dan diketahui masyarakat.

“Terutama generasi muda dalam hal ini para siswa. Dan para siswa ini nanti akan menulis dengan cara mereka masing-masing sesuai dengan kapasitas yang ada pada mereka apalagi generasi milinial sekarang dan kemampuan IT yang luar biasa,” terangnya.

Pendeta Ina sangat senang karena yayasan Vivat bekerja sama dengan GMIT yang ada di Lembata menjadi panitia.

“Sehingga pelaksanaan seminar sosialisasi bahaya tindak pidana perdagangan orang itu bisa masuk ke sekolah-sekolah. Data yang kami dapatkan adalah anak-anak sekolah juga menjadi sasaran dari para mafia untuk membujuk mereka dan mempengaruhi mereka bahwa di kampung tidak baik, kerja berat dan Susah sekali hidup,” tukasnya.

“Dan itu mereka ditawarkan untuk bermigrasi ke luar daerah. Dengan informasi ini anak-anak sudah memiliki informasi alternatif malalui seminar ini untuk mereka bisa mengambil keputusan terhadap apa yang ditawarkan kepada mereka,” tambahnya.

Hingga saat ini, lanjutnya, belum bisa menangkap pelaku atau otak mafia perdagangan manusia.

“Sesuai pengalaman kita itu Perekrut lapangan yang lebih banyak mendapat hukuman atau disidangkan. Masyarakat paling bawah yang sebenarnya juga korban kalau di lihat dari jalur kemiskinan . Mafia itu memang susah diketahui,” pungkas Pendeta Ina Bara Pa.

Untuk diketahui, Nama VIVAT berasal dari kata Latin VIVERE yang berarti HIDUP.  Nama VIVAT mengungkapkan sebuah komitmen bagi semua yang hidup dan yang ada.

VIVAT Internasional, sebuah LSM Internasional berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-bangsa yang memiliki status konsultatif dengan  Dewan Social Ekonomi (ECOSOC) dan berasosiasi dengan Departemen Informasi Publik PBB.

VIVAT Internasional didirikan November 2000 di Roma oleh Pemimpin Umum Serikat Sabda Allah (SVD) dan Konregasi Suster Abdi Roh Kudus (SSpS). Sat ini VIVAT Internasional terdiri dari 13 tarekat religius yang para anggotanya bekerja pada 130 negara; memiliki kantor pusat di New York dan kantor perwakilan di Geneva serta cabang-cabang nasional di Indonesia, Argentina, Bolivia, India, Kenya dan Filipina.

VIVAT Indonesia adalah salah satu cabang nasional dari VIVAT Internasional yang didirikan oleh para Provinsial SVD dan SSpS Indonesia pada 21 Agustus 2008. (*/Willy)

 

  • Bagikan