Bencana dan Martabat Lelaki Lamaholot

0
142

Oleh: Kasmirus Tepi, S.Ag

(Guru SMPN 5 Lebatukan)

INFOKINI.NET, LEMBATA – Sebuah bencana maha dashyat telah terjadi di wilayah NTT pada umumnya dan wilayah Lamaholot (Lembata dan Adonara) pada khususnya.

Peristiwa tragis ini terjadi pada saat para lelaki tertidur pulas. Iya para lelaki Lamaholot yang pada umumnya adalah petani yang menggantungkan harapanya pada hasil pertanian dan perkebunan. Hal ini sungguh memberikan pukulan telak bagi para lelaki Lamaholot yang sudah sedari dulunya dikenal sebagai lelaki yang gagah perkasa dan bisa diandalkan melindungi keluarga bahkan kalau dapat bisa menolong keluarga dan sesamanya.

Lelaki Lamaholot telah memproklamirkan diri mereka sebagai pejuang yang siap mati untuk keluarga, anak dan istrinya. Namun semuanya seolah tak berdaya menahan gempuran banjir bandang yang tanpa ampun menghujam deras seolah menegaskan keperkasaan manusia dalam kejayaan dan kedigdayaan tak mampu melawan alam. Bencana ini seolah menjadi pukulan luar biasa terhadap martabat para lelaki Lamaholot;

Ada tiga hal yang membuat martabat lelaki Lamaholot sedikit terganggu
1. Lelaki Lamaholot adalah pelindung keluarga- keluarganya.
Bencana yang terjadi menghilangkan nyawa sanak keluarga sang lelaki Lamaholot tidak sekedar menyisahkan duka yang mendalam tetapi seolah memberikan tekanan psikologis yang mendalam bagi sang lelaki Lamaholot. Bagaimana tidak, ia adalah pelindung keluarganya (anak dan istrinya bahkan orang tuanya yang telah menua)

2. Lelaki Lamaholot adalah pendiri (hunian yang nyaman) Bisa dibayangkan rumah tempat yang dibangunnya (lelaki Lamaholot) dengan berpeluh keringat dan darah harus rata dengan tanah. Sungguh sebuah pemandangan yang sungguh sangat mengganggu pikirannya. Dari mana ia harus memulainya, kapan dan bagaimana semua itu di mulai. Maka sangat mungkin terbersit pikiran dalam benak lelaki Lamaholot untuk merantau demi membangun kembali hunian yang kini telah menyisahlan puing.

3. Lelaki Lamaholot adalah pencari nafkah. Banjir bandang telah surut, dalam benak pikiran lelaki Lamaholot adalah bagaimana dengan gudang (lumbungnya). Lumbung menjadi satu-satunya indikator untuk mengukur keuletan dan ketekunan seorang lelaki Lamaholot. Dengan adanya persediaan makanan yang cukup untuk setahun paling tidak sang lelaki Lamaholot tak di cap pemalas di masyarakat. Isi lumbung juga menjadi cerita sukses seorang lelaki Lamaholot yang dapat mengangkat martabat dirinya dan keluarganya. Namun jika bencana membawa pergi tanpa meninggalkan sebulir padi dan sebiji jagung pun, dapat dibayangkan psikologis sang lelaki Lamaholot itu sendiri. Baginya bantuan yang disalurkan sebanyak apa pun tak dapat mengembalikan (rasa) kepuasan buah hasil cucuran keringat darah di atas asal muasal manusia itu sendiri. Tidak hanya hasil pertanian itu saja, lelaki Lamaholot telah menyiapkan investasi jangka panjang untuk sekedar merubah nasib anak-anaknya. Entah berapa hektar kebun kemiri, kebun mente dan porang yang runtuh bersama longsor dan hanyut bersama banjir bandang entah kemana arahnya kini. Tapi suatu hal yang pasti lelaki Lamaholot adalah lelaki petarung yang akan terus berjuang walau badai menerjang. Lelaki Lamaholot adalah lelaki perkasa yang selalu menaruh seribu asah. Bencana datang di hari kebangkitan, seolah mau mengajarkan lelaki Lamaholot cara untuk dapat bangkit dari keterpuruhkan ini.

Oleh: Kasmirus Tepi, S.Ag
(Guru SMPN 5 Lebatukan)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here